Dunia tidak tau bagaimana saya setengah mati meyakinkan diri.
Dunia tidak tau bagaimana saya yang tak pernah melewatkan malam panjang tanpa isakkan memecah hening.
Dunia tidak tau bagaimana saya menyulam tawa hingga gema suara terbahak dengan volume keras menarik seluruh otot wajah agar benar-benar mewakilkan refleksi tawa paling heboh.
Dunia tidak pernah tau bagaimana saya harus mencintai dan mengutuki diri pada saat bersamaan.
Dunia tidak pernah tau bagaimana rasanya sesak, tersedu lemas disepertiga malam, tak bisa baring kanan karena sisi bantal yang satunya basah air mata.
Dunia tak pernah tau rasanya terkapar lunglai di lantai dengan napas terengah-engah menahan tangis, sekoyong-koyongnya udara seperti jarum yang menusuk mengingatkan saya masih hidup sementara beban yang saya pikul kian hebatnya.
Dunia tidak pernah tau bagaimana perasaan yang dipukul habis-habisan, merawat luka seorang diri. Yang kalaupun dijelaskan saya mungkin akan seperti benang kusut saat merajut kata, karena jujur bahasa apapun saat ini menjadi amat tidak berarti. Yang kalau ditanya "kenapa?" saya memilih diam dan memaksa diri untuk jadi yang paling kuat menutup pintu. Bukan apa-apa hanya saja saya LELAH, menguras pikiran memahami perkara yang nalar ini saja tak mampu menerjemahkannya. Saya bahkan menanggung imbas dari apa yang tak pernah saya lakukan.
Saya memang bukan yang paling sakit namun tetap saja ini menyakitkan dan waktu bukanlah jawaban kenapa saya harus bertahan selama ini melawan perang batin yang tak pernah henti menyakiti diri, menjadi pribadi paling sensitif, emosi diluar kendali dan mudah marah pada satu kesalahan kecil. Trauma berkepanjangan bak sengsara dalam memori. Semua itu memenuhi ruang dada, tarikan napas panjang yang sering saya lakukan hanya agar diri tetap rileks, semudah itu luka mampu terjadi di saya sedang jangka sembuhnya tak sebentar. Luka batin namanya. Belum lagi ketakutan yang tak mampu kujelaskan selalu menghantui dari segala sisi.
Dunia tak pernah tau saya berlindung dibalik kata lelah agar semuanya terkesan sederhana.
Dunia tak pernah tau bagaimana rasanya batin diseret paksa saat saya mengukuhkan diri menempuh bahagia.
Namun dunia harus tau bahwa Saya tak ingin berikrar atas derita namun dengan segala kerendahan diri, untuk rasa yang masih ada saya hanya ingin dimengerti saat saya tak mampu menjadi sebaik yang digariskan, karena pada titik-titik tertentu saya merasa kehilangan. kehilangan kepercayaan, kegilangan respect, kehilangan rasa, kehilangan orang-orang yang saya butuhkan dan itu bagai bom waktu. Saya tak akan menuliskan itu disini karena sekadar menilik ke memori lama adalah perjalanan ingatan yang menyakitkan juga. Saya sepakat dengan kalimat ini
" hurting someone can be as easy as throwing a stone in the sea, but do you have any idea how deep that stone can go?" Saat ini saya enggan berbagi apapun dengan siapapun cukup bagi saya menjadikan diam sebagai cara yang agung. Meringkuk dalam sepi, seperti dimensi kedap suara. Cukup tembok persegi jadi pendegar teriakkan paling sunyi dan cermin sebagai pengingat ketika sembab di wajah masih jelas. Cukup ruang ini saja yang jadi saksinya. Setelahnya saya hanya akan menggelar duka pada tuhan.
- rid ( Minggu, 9 Mei 2021)
I hate showing weakness to anyone. Then i have no pride :)
Dunia tidak tau bagaimana saya yang tak pernah melewatkan malam panjang tanpa isakkan memecah hening.
Dunia tidak tau bagaimana saya menyulam tawa hingga gema suara terbahak dengan volume keras menarik seluruh otot wajah agar benar-benar mewakilkan refleksi tawa paling heboh.
Dunia tidak pernah tau bagaimana saya harus mencintai dan mengutuki diri pada saat bersamaan.
Dunia tidak pernah tau bagaimana rasanya sesak, tersedu lemas disepertiga malam, tak bisa baring kanan karena sisi bantal yang satunya basah air mata.
Dunia tak pernah tau rasanya terkapar lunglai di lantai dengan napas terengah-engah menahan tangis, sekoyong-koyongnya udara seperti jarum yang menusuk mengingatkan saya masih hidup sementara beban yang saya pikul kian hebatnya.
Dunia tidak pernah tau bagaimana perasaan yang dipukul habis-habisan, merawat luka seorang diri. Yang kalaupun dijelaskan saya mungkin akan seperti benang kusut saat merajut kata, karena jujur bahasa apapun saat ini menjadi amat tidak berarti. Yang kalau ditanya "kenapa?" saya memilih diam dan memaksa diri untuk jadi yang paling kuat menutup pintu. Bukan apa-apa hanya saja saya LELAH, menguras pikiran memahami perkara yang nalar ini saja tak mampu menerjemahkannya. Saya bahkan menanggung imbas dari apa yang tak pernah saya lakukan.
Saya memang bukan yang paling sakit namun tetap saja ini menyakitkan dan waktu bukanlah jawaban kenapa saya harus bertahan selama ini melawan perang batin yang tak pernah henti menyakiti diri, menjadi pribadi paling sensitif, emosi diluar kendali dan mudah marah pada satu kesalahan kecil. Trauma berkepanjangan bak sengsara dalam memori. Semua itu memenuhi ruang dada, tarikan napas panjang yang sering saya lakukan hanya agar diri tetap rileks, semudah itu luka mampu terjadi di saya sedang jangka sembuhnya tak sebentar. Luka batin namanya. Belum lagi ketakutan yang tak mampu kujelaskan selalu menghantui dari segala sisi.
Dunia tak pernah tau saya berlindung dibalik kata lelah agar semuanya terkesan sederhana.
Dunia tak pernah tau bagaimana rasanya batin diseret paksa saat saya mengukuhkan diri menempuh bahagia.
Namun dunia harus tau bahwa Saya tak ingin berikrar atas derita namun dengan segala kerendahan diri, untuk rasa yang masih ada saya hanya ingin dimengerti saat saya tak mampu menjadi sebaik yang digariskan, karena pada titik-titik tertentu saya merasa kehilangan. kehilangan kepercayaan, kegilangan respect, kehilangan rasa, kehilangan orang-orang yang saya butuhkan dan itu bagai bom waktu. Saya tak akan menuliskan itu disini karena sekadar menilik ke memori lama adalah perjalanan ingatan yang menyakitkan juga. Saya sepakat dengan kalimat ini
" hurting someone can be as easy as throwing a stone in the sea, but do you have any idea how deep that stone can go?" Saat ini saya enggan berbagi apapun dengan siapapun cukup bagi saya menjadikan diam sebagai cara yang agung. Meringkuk dalam sepi, seperti dimensi kedap suara. Cukup tembok persegi jadi pendegar teriakkan paling sunyi dan cermin sebagai pengingat ketika sembab di wajah masih jelas. Cukup ruang ini saja yang jadi saksinya. Setelahnya saya hanya akan menggelar duka pada tuhan.
- rid ( Minggu, 9 Mei 2021)
I hate showing weakness to anyone. Then i have no pride :)
Comments
Post a Comment