Posts

Showing posts from December, 2020

Catatan yang akan panjang nantinya

Sejak awal keputusanku menyinggung tentang-mu dalam tulisan ini, kuharap diksiku mampu menyihir perasaanmu jadi sebiasa mungkin, tak curiga, nalar dan indera-mu tak sekritis biasanya saat kamu membaca atau tak sengaja menemukan salah satu dari tulisan-tulisanku. Semua yang kugambarkan adalah perasaanku sendiri, sesuatu yang masih ingin kupahami, sesuatu yang masih ingin kuterjemahkan. Aku hanya butuh waktu. Aku dengan segala keistimewaan tak berkelebihan ini percaya pada sang pemberi waktu tanpa perlu menuntut cepat dan lambatnya. Aku tak ingin salah peran ketika nanti memulai naskah baru, menghadapimu nanti yang kini jadi objek observasiku. Otak kiriku memang egois selalu mencipta ketegangan dengan membuat perhitungan dari segala kemungkinan. Kemungkinan-kemungkinan yang menempatkan risau pada setiap ruang berpikirku. Kamu dan fraksi tentangmu adalah teka-teki unik bahkan jeda "eee" di antara kata yang kau ucap jadi semenarik itu. Dengan adanya kamu sengaja menambah muatan b...

🙂

Image

Sedikit tentang kamu

Image

Sekadar puisi

Image

Logika dan rasa

Semua yang kudapati perlahan menjelma, mengukuhkan keberadaan itu sebagai pemahaman dan kegetiran dalam fase-fase pencarian. Memaksa diri menilik apa yang tak ingin lagi kurayu menyeretnya masuk ke dimensi dan jalan berpikirku. Aku membuat sebuah benteng, yang setiap tambatannya berusaha kuperjelas, selaras logika dan batin. Semua maklumat tentang kebebasan selalu menggoda bagi pelaku sepertiku. Laksana kereta yang jalan datangnya sering tak tertebak lewat tanpa aba-aba, bisa sanksi ataupun apresiasi yang tak ubahnya seperti melukis mimpi di atas kanvas bertepi miring dimana posisi dan sudut pandang jadi kunci utama. Ada lagi taksa dengan kaharusan mengurainya, berbisik semacam gangguan jenaka, dibuat bodoh dengan hadirnya pilihan. Nalarku riuh memahami makna dengan berpuluh tudingan, menjerat kebenaran untuk dipertanyakan lagi.

Saya lagi

Teruntuk saya yang kehendaknya manasuka. Lebih cepat menarik diri karena dini dalam menyimpulkan dan harus saya akui kebenaran dalam prediksi saya. Ah rasanya proses ini jadi tak menarik lagi dan segala hal pun akan dicap sama oleh saya. Tak ada yang salah dengan pikiran, hanya saja kematangan resiko yang saya punya selalu memetakan asiknya coba-coba. Teruntuk saya yang tak mudah percaya, bukalah ruang dengan segala kesengajaan kalaupun itu luka ya belajar saja, toh proses datangnya sempat saya nikmati. 

Konsistensi intinya

Ada yang telah lama membuat keputusan, keputusan yang tiada putus-putusnya. Sekumpulan fraksi dan fragmen yang kalau dijelaskan hanyalah rentetan kegagalan dengan ribuan nalar. Tindakan memulai adalah euforia dari segala niat, menggebu saat awalnya saja. Langkah yang kudapati mudah terusik akan retaknya jalan, langkah yang kudapati tak percaya pada medan. Apalah arti pikiran sempurna jika selalu mengalah pada bodohnya rasa. Kendali isi kepala saya tunduk semaunya batin, menuntun pada titik nyaman, acuan semu dengan dalih aman. Beginilah saya berjuang membangun konsistensi diri meski diterpa hebatnya ragu. Berjuang melawan hantu masalalu dan kekhawatiran tak berujung. Membangun diri lewat hal-hal positif yang saya sukai. Masa depan bertumpu misteri salah satunya, memantikkan mimpi berpendar adalah alasan kuatnya saya hari ini. 

Peran kala itu

Tak ada niat meyakinkan siapapun akan sesuatu yang kuakui. Lewat bahasa ataupun citra yang barusan kutangkap. Masing-masing kita punya tafsiran sendiri dalam setiap versi estetik. Wujud, nuansa, karsa dan alamiah kebenaran. Tak cukup bagiku mengurainya dalam lekukan huruf, maklumat semesta tentang elok dan paduan sunyi yang bentangannya hanya sebatas pasir dan ombak. Tentang rupa sang mangata yang memecah gelap saat malam dan kinantannya siang saat langit berpendar hangat. Burung-burung berbakat selalu bernyanyi lagu aku. Bertahun lalu kaki kecil berlari riang menyisir gelinya pasir, sengaja mengejek ombak sampai basah kuyup kemudian menyeburkan diri dengan mata merah setelahnya, seperih itu menyelam. Zaman dimana memulai dan menutup hari tanpa beban pikiran, menikmati peran seorang bocah dengan mainan imajiner yang kalau ditanya sendalnya mana pasti jawabnya bingung. Hahaa kepanikanku sesederhana itu waktu dulu. Sekarang banyak yang berubah tapi tidak dengan sekat pekat memori batok k...