Peran kala itu

Tak ada niat meyakinkan siapapun akan sesuatu yang kuakui. Lewat bahasa ataupun citra yang barusan kutangkap. Masing-masing kita punya tafsiran sendiri dalam setiap versi estetik. Wujud, nuansa, karsa dan alamiah kebenaran. Tak cukup bagiku mengurainya dalam lekukan huruf, maklumat semesta tentang elok dan paduan sunyi yang bentangannya hanya sebatas pasir dan ombak. Tentang rupa sang mangata yang memecah gelap saat malam dan kinantannya siang saat langit berpendar hangat. Burung-burung berbakat selalu bernyanyi lagu aku. Bertahun lalu kaki kecil berlari riang menyisir gelinya pasir, sengaja mengejek ombak sampai basah kuyup kemudian menyeburkan diri dengan mata merah setelahnya, seperih itu menyelam. Zaman dimana memulai dan menutup hari tanpa beban pikiran, menikmati peran seorang bocah dengan mainan imajiner yang kalau ditanya sendalnya mana pasti jawabnya bingung. Hahaa kepanikanku sesederhana itu waktu dulu. Sekarang banyak yang berubah tapi tidak dengan sekat pekat memori batok kepala ini.

Comments

Popular posts from this blog

Aksara

Bukan apa-apa