Posts

Showing posts from 2020

Catatan yang akan panjang nantinya

Sejak awal keputusanku menyinggung tentang-mu dalam tulisan ini, kuharap diksiku mampu menyihir perasaanmu jadi sebiasa mungkin, tak curiga, nalar dan indera-mu tak sekritis biasanya saat kamu membaca atau tak sengaja menemukan salah satu dari tulisan-tulisanku. Semua yang kugambarkan adalah perasaanku sendiri, sesuatu yang masih ingin kupahami, sesuatu yang masih ingin kuterjemahkan. Aku hanya butuh waktu. Aku dengan segala keistimewaan tak berkelebihan ini percaya pada sang pemberi waktu tanpa perlu menuntut cepat dan lambatnya. Aku tak ingin salah peran ketika nanti memulai naskah baru, menghadapimu nanti yang kini jadi objek observasiku. Otak kiriku memang egois selalu mencipta ketegangan dengan membuat perhitungan dari segala kemungkinan. Kemungkinan-kemungkinan yang menempatkan risau pada setiap ruang berpikirku. Kamu dan fraksi tentangmu adalah teka-teki unik bahkan jeda "eee" di antara kata yang kau ucap jadi semenarik itu. Dengan adanya kamu sengaja menambah muatan b...

🙂

Image

Sedikit tentang kamu

Image

Sekadar puisi

Image

Logika dan rasa

Semua yang kudapati perlahan menjelma, mengukuhkan keberadaan itu sebagai pemahaman dan kegetiran dalam fase-fase pencarian. Memaksa diri menilik apa yang tak ingin lagi kurayu menyeretnya masuk ke dimensi dan jalan berpikirku. Aku membuat sebuah benteng, yang setiap tambatannya berusaha kuperjelas, selaras logika dan batin. Semua maklumat tentang kebebasan selalu menggoda bagi pelaku sepertiku. Laksana kereta yang jalan datangnya sering tak tertebak lewat tanpa aba-aba, bisa sanksi ataupun apresiasi yang tak ubahnya seperti melukis mimpi di atas kanvas bertepi miring dimana posisi dan sudut pandang jadi kunci utama. Ada lagi taksa dengan kaharusan mengurainya, berbisik semacam gangguan jenaka, dibuat bodoh dengan hadirnya pilihan. Nalarku riuh memahami makna dengan berpuluh tudingan, menjerat kebenaran untuk dipertanyakan lagi.

Saya lagi

Teruntuk saya yang kehendaknya manasuka. Lebih cepat menarik diri karena dini dalam menyimpulkan dan harus saya akui kebenaran dalam prediksi saya. Ah rasanya proses ini jadi tak menarik lagi dan segala hal pun akan dicap sama oleh saya. Tak ada yang salah dengan pikiran, hanya saja kematangan resiko yang saya punya selalu memetakan asiknya coba-coba. Teruntuk saya yang tak mudah percaya, bukalah ruang dengan segala kesengajaan kalaupun itu luka ya belajar saja, toh proses datangnya sempat saya nikmati. 

Konsistensi intinya

Ada yang telah lama membuat keputusan, keputusan yang tiada putus-putusnya. Sekumpulan fraksi dan fragmen yang kalau dijelaskan hanyalah rentetan kegagalan dengan ribuan nalar. Tindakan memulai adalah euforia dari segala niat, menggebu saat awalnya saja. Langkah yang kudapati mudah terusik akan retaknya jalan, langkah yang kudapati tak percaya pada medan. Apalah arti pikiran sempurna jika selalu mengalah pada bodohnya rasa. Kendali isi kepala saya tunduk semaunya batin, menuntun pada titik nyaman, acuan semu dengan dalih aman. Beginilah saya berjuang membangun konsistensi diri meski diterpa hebatnya ragu. Berjuang melawan hantu masalalu dan kekhawatiran tak berujung. Membangun diri lewat hal-hal positif yang saya sukai. Masa depan bertumpu misteri salah satunya, memantikkan mimpi berpendar adalah alasan kuatnya saya hari ini. 

Peran kala itu

Tak ada niat meyakinkan siapapun akan sesuatu yang kuakui. Lewat bahasa ataupun citra yang barusan kutangkap. Masing-masing kita punya tafsiran sendiri dalam setiap versi estetik. Wujud, nuansa, karsa dan alamiah kebenaran. Tak cukup bagiku mengurainya dalam lekukan huruf, maklumat semesta tentang elok dan paduan sunyi yang bentangannya hanya sebatas pasir dan ombak. Tentang rupa sang mangata yang memecah gelap saat malam dan kinantannya siang saat langit berpendar hangat. Burung-burung berbakat selalu bernyanyi lagu aku. Bertahun lalu kaki kecil berlari riang menyisir gelinya pasir, sengaja mengejek ombak sampai basah kuyup kemudian menyeburkan diri dengan mata merah setelahnya, seperih itu menyelam. Zaman dimana memulai dan menutup hari tanpa beban pikiran, menikmati peran seorang bocah dengan mainan imajiner yang kalau ditanya sendalnya mana pasti jawabnya bingung. Hahaa kepanikanku sesederhana itu waktu dulu. Sekarang banyak yang berubah tapi tidak dengan sekat pekat memori batok k...

saya

Saya dengan segala hal yang biasa, tak cukup istimewa hanya sekadar menyatakan rasa. Tak lebih. Dalam setiap kata yang saya rangkai ada bahasa tentang kebebasan di dalamnya. Sederhanya saya melepas. Saya selalu tertarik membahas diri sendiri sebagai topik utama dan kamu setelahnya.   Saya terpana pada apa yang tak pernah saya duga, saya terpana pada apa yang membawa luka, saya terpana pada kesalahan yang nyaris indah. Saya terus saja terpana. Saya. Sebuah semesta yang statis saat ini. Tak ada cukup energi untuk membuatnya menari pada poros. Saya yang kini terdiam dengan segala pertanyaan, membatin dan tidur dalam diam. Saya yang kini terus menjauh dari riak permukaan, merasa benar akan ego yang tak salah. Harusnya saya begini dulu. 

pesan untuknya

Tak semua hal bisa kau tahan, meski nyatanya kamu mampu. Menarilah jika ingin, bernyanyilah jika mungkin, tak merdu pun tak mengapa atau melukis saja lewat pasir atau kamu bisa menyatakan rasa lewat cara yang kamu mau. Bila aksara adalah rumah tempat melepas, bangun itu lewat ungkapan serapah menggebu yang selama ini tertahan, lindap dalam hatimu. Mungkin bisa untuk memoar suatu hari nanti. Kamu pun tak harus jadi nirmala dulu dengan merasa jaim saat mencoba. Sudah berapa abad kamu diam? Membatu agar telihat kokoh? Definisi kuat kah? Dengan seperti sengaja kamu telah memberi nila masuk kedalam sekat-sekat pekatmu, batin yang tak kau jaga. Rusak beralasan. Kutukan berantai yang kebenarannya hanya sebuah stigma dari cerita penghuni daratan panas dan kamu tunduk. Saya tau rasanya kehilangan tempat di rumah sendiri. Mantranya sederhana "kamu adalah apa yang kamu pikir" Saban kamu tertekan kemudian sesak, pelakunya tak akan meraih tangganmu untuk beranjak. Sepenuhnya tugas dir...

rancu part sekian

Berangkat dari pandangan dan ritual umum saat berpaspasan, ya kamu Sedikit perumpamaan yang bisa kujabarkan, bahkan lekukan hurufku amat terbatas menyusunmu dalam baris-baris rapi beradu spasi dengan diksi yang rancu, diri ini memang sok puitis. Entahlah seperti ini adanya, Saya memang sedang berusaha damai dengan batin, bersenandika, memberinya waktu dan ruang tanpa mengusik. Dalam diam saya berpikir dan menyadari palung ego yang berabad lamanya saya jaga. Kutemukan lagi memori-memori usang yang tak selesai ceritanya kala itu, masalah lampau belum tuntas. Saya yakini masalalu adalah penjara dengan sel terbuka, tentu saya tak ingin menjerat diri, hanya saja merasa perlu menyelesaikan biar tak risak dan jadi hantu. Sebenarnya saya terdorong karena buku psikologi, saya baca beberapa hari lalu yang mengetuk batok kepala saya hingga cukuplah membuat saya berani mengulik memori saya. Sekali lagi saya disadarkan bahwa waktu tak menyembuhkan dan memulai butuh kerelaan. Saya menyesal karena ...

Bukan apa-apa

Okeh jika ditarik garis sederhanya cukup  menyampingkan ego dan keinginan sepihak maka akan jelas "apa" dan "kenapa" harus terjawab. Ada sesuatu yang sebenarnya lebih dulu jatuh sebelum pertanyaan itu muncul dan diluar kendali. Sepenuhnya aku sadar bahwa banyak yang lebih baik atau serupa namun lagi-lagi situasi mengukur jarak tanpa kuketahui. Jadilah kemarin, hari ini, mungkin esok, lusa, tulat atau tubin sebagai zona antara daratan dan waktu yang berpas-pasan. 
Iya anggap saja entah dari mana datangnya, taunya ada tanpa tanya. Ini bukan lagi baris-baris awal penuh dengan asal-muasal, telah lama kuterima tanpa bertanya, berusaha untuk terbiasa ringan dengan kepala sendiri, memang caraku sering terlihat kosong dalam  hal-hal yang tak muncul seperti kebanyakan perilaku manusia. Dengan sejuta hal yang terus mengusik, sementara kuputuskan untuk menemukan tanpa mencari. Bukankah semua selalu berjalan sesuai yang ditetapkan? Berdamai pada diri sendiri, memberinya ruang, kelonggaran dan waktu lebih banyak tanpa menjadi hantu untuk diri sendiri. 

akhirnya

Iyap. Mungkin kau menemukan apa yang kau cari atau mungkin juga dengan tak sengaja menemukannya, entah dengan cara apa jatuhnya tak lebih tak kurang di posisi yang sama. Bagaimana menurutmu? Jawaban atas pertanyaan tak selalu menarik bukan? Esensinya jelas hanya ingin kau ketahui, lalu menempuh jalan dari yang bukan seharusnya. Memang ada dalam kendali namun seperti mencipta batas, menyiksa diri sendiri dan pada akhirnya bukan itu yang benar menurut aturan baik. Separuh abadmu terpakai 🙃

ayolah

Ayolah sepelan nyamuk melintas dan secepat dengan menghilangnya. Tawaran yang selalu kalah, ada dan tak ubahnya apapun. Tekanan pengganggu setia, datang saat batin meminta tenang, menuntut saat pikiran ingin diam. Kubayar dengan setengah malam namun tak kunjung selesai, beberapa notifikasi di layar ponsel kubiarkan menunggu tak sengaja terbuka, setidaknya keingintahuanku hanya biasa saja kemudian perlahan hilang, sepelan itu berakhir. 

penjara sederhana

Pada bagian yang tak ingin lagi ada interfensi, gugatan atau sekedar bantahan. kubiarkan air tetap pada sungainya dan jembatan kokoh sebagaimana mestinya. Begitulah seharusnya aku pahami termasuk bait-bait ini. Setelah hari dan tahun titipan demi titipan kian beragam. Tak lagi kuterima sebagai hukuman melainkan hadiah yang berbeda. Kubayangkan jika kubisa kendalikan debit dan alirnya (sungai) kehidupan tanpa mengusik (jembatan) perantara pasti setiap pasir yang terseret adalah rasa yang indah.  Anggap saja gagal lalu ubah persepsinya seolah-olah dan seakan-akan.  kadang kita memang buta sampai harus bertingkah menyaksikan dengan sempurna karena yang sebenarnya adalah tentang apa yang kita pikir. Aku, pikirku dan ingatan pendek tak tentu. Seperti kereta dengan daratan terbuang selalu mencari rute dan aku lupa menikmati perjalanan yang sebenarnya jauh lebih indah dari jauhnya tujuan itu.  Aku teringat dengan wejangan seorang Buddhis yang karangannya tak sengaja kutemukan di...

April

Saat semua dibiarkan berjalan menurut keinginan  tanpa sanggahan, tuntutan dan menghakimi nampaknya ketimpangan perlahan dikikis waktu. Aku tak ingin melampaui batas egoku sendiri karena kini yang kutenteng bukan tentang itu saja, ada aturan tak tertulis dan kewajiban tanpa perintah. Kuharap delusi dalam batok kepala ini bisa dikendalikan karena dari dulu tantangan terbesar ada dalam diri sendiri, lebih dan kurang, baik dan buruk belum lagi puisi daratan panas yang tak punya hati. Biarkan jalan menuntun keyakinan pada destinasi impian. Sejujurnya aku kagum pada kekuatan memahami tanpa dijelaskan dan tidak keberatan juga sih kalau harus kuluruskan dengan bahasaku, dalam hal ini membela diri tidak perlu permisi. Dari jauhnya jalan bukan hanya kaki yang terseok, batin, pikiran dan keyakinan sistem dari tata semesta pribadi belum terukur batasannya. Jika lelah cukup nyatakan dalam hati tuhanku mendengar lebih dari apapun yang bisa kuucap. 

march 10 2020

Sejatinya semua telah diatur, saya dihadapkan dengan segala hal yang menuntut untuk selalu siap kapanpun bahkan saat saya ingin menolak, namun satu hal pasti alasan terbaik selalu dari-Nya mungkin jadi sesuatu yang susah dijelaskan, memang saya tak bisa menahan diri untuk paham. Kira-kira seperti itu cara saya membungkus masalalu. Saya tak ingin masa menghapus ingatan semudah itu.