Posts

Dunia tidak tau bagaimana saya setengah mati meyakinkan diri. Dunia tidak tau bagaimana saya yang tak pernah melewatkan malam panjang tanpa isakkan memecah hening. Dunia tidak tau bagaimana saya menyulam tawa hingga gema suara terbahak dengan volume keras menarik seluruh otot wajah agar benar-benar mewakilkan refleksi tawa paling heboh. Dunia tidak pernah tau bagaimana saya harus mencintai dan mengutuki diri pada saat bersamaan. Dunia tidak pernah tau bagaimana rasanya sesak, tersedu lemas disepertiga malam, tak bisa baring kanan karena sisi bantal yang satunya basah air mata. Dunia tak pernah tau rasanya terkapar lunglai di lantai dengan napas terengah-engah menahan tangis, sekoyong-koyongnya udara seperti jarum yang menusuk mengingatkan saya masih hidup sementara beban yang saya pikul kian hebatnya. Dunia tidak pernah tau bagaimana perasaan yang dipukul habis-habisan, merawat luka seorang diri. Yang kalaupun dijelaskan saya mungkin akan seperti benang kusut saat merajut kata,...

selamat 22

Berdalih agung untuk harapan melangit kepada sang Khalik Bersimpuh memangku hening, melambungkan doa dan syukur kepada pemilik kerajaan semesta yang mengijinkan hari ini terjadi lagi Satu-satunya titik tumpu tempat kulabuhkan aduan batin tentang rasa dengan teriakkan paling sunyi oleh seorang pelaku sepertiku Dibuatnya aku istimewa Istimewa atas kepala, bahu, genggaman dan pijakkan Dibuatnya aku dewasa, akrab dengan waktu Waktu yang sedianya bak sekat pekat melintang tak terbilang  Terimakasih hari ini, hari penanda sebuah angka yang bertambah untuk sang raga menurut kalender bumi Nominal baru yang kusebut 22 Tak ada keraguan apapun karena lakon dan panggung telah disiapkan oleh-Nya Allah azza wa jalla untuk suatu peran garis takdir (meraki) 28 Feb 1999 Selamat ulang tahun. - rid

Lokon, 19 Feb 2021

Image
Jumantara : (awang-awang; langit, udara)  Jatmika : (tingkah laku; sopan, perilaku)  jumantara - jatmika Ditunggu sang Bentala di tepi hari Disambut dersik kala nuraga dikungkung riuh Datang dengan pijakkan menghantam medan Melumat sejuk yang terasingkan oleh hingar-bingar ego pelaku Belenggu karsa pada waktu-waktu yang tersita, tak ayal pelaku dibuat membatu dengan keramah ambigu Selalu memenuhi ruang kepala dengan teka-teki Secara diam-diam mengajak tuhan berkompromi dengan keinginan sepihakku Melibatkan semua rasa, logika dan sukma hanya untuk membangun saka.  Saka yang dalam kondisi apapun berharap selalu diterima - Nya Lokon, 19 Feb 2021 - rid  

Intuisiku

Waktu menyeret banyak hal, dibuatnya semua saling bersisian dengan sedikit penjelasan dan keambiguan berakar.  Dengan cara yang sama juga waktu mencipta peradaban yang isinya selalu mengajak batin, mengujinya habis-habisan tanpa memberi ruang istimewa. Aku menikmati jeda, jeda bagi setiap sekat pekat yang melumat tamat kegilaanku.  Caraku mungkin naif, tak selalu baik dari segala sisi, kekurangan dan kesalahan yang masih belum bisa kucegah terjadinya.  Kusiapkan daratan untuk mengubur pahit. Kuciptakan euforia sebagai alibi. Kutegakkan saka tinggikan rasa.  Kubangun benteng menutup diri. Pikiranku begitu liar, merayu semua pesan dan sinyal untuk terlibat sedang aku tak begitu pandai menentukan pilihan yang hadirnya teriring tudingan.  Aku tak selalu diberitahu, tahunya aku dijemput semesta pada saat-saat tak terduga.  Apakah permintaanku bagian dari tuntutan? Tapi tak apa, aku paham betul rasanya Lantas salah dan benar akan jadi tolak ukur. Parameter itu me...

Chromatic person

Saya di kotamu dengan palung kebingungan tak berdasar.  Datangmu seperti jebakan baru, awalnya biasa  Atas nama tugas dan tanggung jawab yang kini terikat bukan hanya itu saja. Jika kamu paham, saya setengah mati meyakinkan diri sementara saya terus diperhadapkan untuk menghebatkan diri seiring hebatnya rintangan. Kemudian di tempat ini juga waktu membuat paradigma tentang rasa dari fraksi sederhana antara cerita dan peran. Melibatkan lagi logika  dalam senandika berkepanjangan. Menyita malam dengan pasal hasil duga-duga. Apa yang dulu hilang, saya pikir takdir tak lagi menyinggungnya dan membiarkan saya bebas dari keanaifan ini. Namun sungguh sekarang saya sedang tak berusaha melawan arus, saya ingin dibawa saja. Intuisi dan nurani laksana kuda pada lintasan linier, sama-sama berpacu  sampai pada destinasi. Sebenarnya banyak yang ingin saya tanyakan sebelum  mengambil langkah pertama, tapi sadar waktu saya tak banyak, fase berpikir ditunda dulu, saya akan temuk...

Catatan yang akan panjang nantinya

Sejak awal keputusanku menyinggung tentang-mu dalam tulisan ini, kuharap diksiku mampu menyihir perasaanmu jadi sebiasa mungkin, tak curiga, nalar dan indera-mu tak sekritis biasanya saat kamu membaca atau tak sengaja menemukan salah satu dari tulisan-tulisanku. Semua yang kugambarkan adalah perasaanku sendiri, sesuatu yang masih ingin kupahami, sesuatu yang masih ingin kuterjemahkan. Aku hanya butuh waktu. Aku dengan segala keistimewaan tak berkelebihan ini percaya pada sang pemberi waktu tanpa perlu menuntut cepat dan lambatnya. Aku tak ingin salah peran ketika nanti memulai naskah baru, menghadapimu nanti yang kini jadi objek observasiku. Otak kiriku memang egois selalu mencipta ketegangan dengan membuat perhitungan dari segala kemungkinan. Kemungkinan-kemungkinan yang menempatkan risau pada setiap ruang berpikirku. Kamu dan fraksi tentangmu adalah teka-teki unik bahkan jeda "eee" di antara kata yang kau ucap jadi semenarik itu. Dengan adanya kamu sengaja menambah muatan b...

🙂

Image

Sedikit tentang kamu

Image

Sekadar puisi

Image

Logika dan rasa

Semua yang kudapati perlahan menjelma, mengukuhkan keberadaan itu sebagai pemahaman dan kegetiran dalam fase-fase pencarian. Memaksa diri menilik apa yang tak ingin lagi kurayu menyeretnya masuk ke dimensi dan jalan berpikirku. Aku membuat sebuah benteng, yang setiap tambatannya berusaha kuperjelas, selaras logika dan batin. Semua maklumat tentang kebebasan selalu menggoda bagi pelaku sepertiku. Laksana kereta yang jalan datangnya sering tak tertebak lewat tanpa aba-aba, bisa sanksi ataupun apresiasi yang tak ubahnya seperti melukis mimpi di atas kanvas bertepi miring dimana posisi dan sudut pandang jadi kunci utama. Ada lagi taksa dengan kaharusan mengurainya, berbisik semacam gangguan jenaka, dibuat bodoh dengan hadirnya pilihan. Nalarku riuh memahami makna dengan berpuluh tudingan, menjerat kebenaran untuk dipertanyakan lagi.

Saya lagi

Teruntuk saya yang kehendaknya manasuka. Lebih cepat menarik diri karena dini dalam menyimpulkan dan harus saya akui kebenaran dalam prediksi saya. Ah rasanya proses ini jadi tak menarik lagi dan segala hal pun akan dicap sama oleh saya. Tak ada yang salah dengan pikiran, hanya saja kematangan resiko yang saya punya selalu memetakan asiknya coba-coba. Teruntuk saya yang tak mudah percaya, bukalah ruang dengan segala kesengajaan kalaupun itu luka ya belajar saja, toh proses datangnya sempat saya nikmati. 

Konsistensi intinya

Ada yang telah lama membuat keputusan, keputusan yang tiada putus-putusnya. Sekumpulan fraksi dan fragmen yang kalau dijelaskan hanyalah rentetan kegagalan dengan ribuan nalar. Tindakan memulai adalah euforia dari segala niat, menggebu saat awalnya saja. Langkah yang kudapati mudah terusik akan retaknya jalan, langkah yang kudapati tak percaya pada medan. Apalah arti pikiran sempurna jika selalu mengalah pada bodohnya rasa. Kendali isi kepala saya tunduk semaunya batin, menuntun pada titik nyaman, acuan semu dengan dalih aman. Beginilah saya berjuang membangun konsistensi diri meski diterpa hebatnya ragu. Berjuang melawan hantu masalalu dan kekhawatiran tak berujung. Membangun diri lewat hal-hal positif yang saya sukai. Masa depan bertumpu misteri salah satunya, memantikkan mimpi berpendar adalah alasan kuatnya saya hari ini.