Posts

Showing posts from February, 2021

selamat 22

Berdalih agung untuk harapan melangit kepada sang Khalik Bersimpuh memangku hening, melambungkan doa dan syukur kepada pemilik kerajaan semesta yang mengijinkan hari ini terjadi lagi Satu-satunya titik tumpu tempat kulabuhkan aduan batin tentang rasa dengan teriakkan paling sunyi oleh seorang pelaku sepertiku Dibuatnya aku istimewa Istimewa atas kepala, bahu, genggaman dan pijakkan Dibuatnya aku dewasa, akrab dengan waktu Waktu yang sedianya bak sekat pekat melintang tak terbilang  Terimakasih hari ini, hari penanda sebuah angka yang bertambah untuk sang raga menurut kalender bumi Nominal baru yang kusebut 22 Tak ada keraguan apapun karena lakon dan panggung telah disiapkan oleh-Nya Allah azza wa jalla untuk suatu peran garis takdir (meraki) 28 Feb 1999 Selamat ulang tahun. - rid

Lokon, 19 Feb 2021

Image
Jumantara : (awang-awang; langit, udara)  Jatmika : (tingkah laku; sopan, perilaku)  jumantara - jatmika Ditunggu sang Bentala di tepi hari Disambut dersik kala nuraga dikungkung riuh Datang dengan pijakkan menghantam medan Melumat sejuk yang terasingkan oleh hingar-bingar ego pelaku Belenggu karsa pada waktu-waktu yang tersita, tak ayal pelaku dibuat membatu dengan keramah ambigu Selalu memenuhi ruang kepala dengan teka-teki Secara diam-diam mengajak tuhan berkompromi dengan keinginan sepihakku Melibatkan semua rasa, logika dan sukma hanya untuk membangun saka.  Saka yang dalam kondisi apapun berharap selalu diterima - Nya Lokon, 19 Feb 2021 - rid  

Intuisiku

Waktu menyeret banyak hal, dibuatnya semua saling bersisian dengan sedikit penjelasan dan keambiguan berakar.  Dengan cara yang sama juga waktu mencipta peradaban yang isinya selalu mengajak batin, mengujinya habis-habisan tanpa memberi ruang istimewa. Aku menikmati jeda, jeda bagi setiap sekat pekat yang melumat tamat kegilaanku.  Caraku mungkin naif, tak selalu baik dari segala sisi, kekurangan dan kesalahan yang masih belum bisa kucegah terjadinya.  Kusiapkan daratan untuk mengubur pahit. Kuciptakan euforia sebagai alibi. Kutegakkan saka tinggikan rasa.  Kubangun benteng menutup diri. Pikiranku begitu liar, merayu semua pesan dan sinyal untuk terlibat sedang aku tak begitu pandai menentukan pilihan yang hadirnya teriring tudingan.  Aku tak selalu diberitahu, tahunya aku dijemput semesta pada saat-saat tak terduga.  Apakah permintaanku bagian dari tuntutan? Tapi tak apa, aku paham betul rasanya Lantas salah dan benar akan jadi tolak ukur. Parameter itu me...

Chromatic person

Saya di kotamu dengan palung kebingungan tak berdasar.  Datangmu seperti jebakan baru, awalnya biasa  Atas nama tugas dan tanggung jawab yang kini terikat bukan hanya itu saja. Jika kamu paham, saya setengah mati meyakinkan diri sementara saya terus diperhadapkan untuk menghebatkan diri seiring hebatnya rintangan. Kemudian di tempat ini juga waktu membuat paradigma tentang rasa dari fraksi sederhana antara cerita dan peran. Melibatkan lagi logika  dalam senandika berkepanjangan. Menyita malam dengan pasal hasil duga-duga. Apa yang dulu hilang, saya pikir takdir tak lagi menyinggungnya dan membiarkan saya bebas dari keanaifan ini. Namun sungguh sekarang saya sedang tak berusaha melawan arus, saya ingin dibawa saja. Intuisi dan nurani laksana kuda pada lintasan linier, sama-sama berpacu  sampai pada destinasi. Sebenarnya banyak yang ingin saya tanyakan sebelum  mengambil langkah pertama, tapi sadar waktu saya tak banyak, fase berpikir ditunda dulu, saya akan temuk...