Intuisiku

Waktu menyeret banyak hal, dibuatnya semua saling bersisian dengan sedikit penjelasan dan keambiguan berakar. 

Dengan cara yang sama juga waktu mencipta peradaban yang isinya selalu mengajak batin, mengujinya habis-habisan tanpa memberi ruang istimewa.

Aku menikmati jeda, jeda bagi setiap sekat pekat yang melumat tamat kegilaanku. 

Caraku mungkin naif, tak selalu baik dari segala sisi, kekurangan dan kesalahan yang masih belum bisa kucegah terjadinya. 

Kusiapkan daratan untuk mengubur pahit.
Kuciptakan euforia sebagai alibi.
Kutegakkan saka tinggikan rasa. 
Kubangun benteng menutup diri.

Pikiranku begitu liar, merayu semua pesan dan sinyal untuk terlibat sedang aku tak begitu pandai menentukan pilihan yang hadirnya teriring tudingan. 

Aku tak selalu diberitahu, tahunya aku dijemput semesta pada saat-saat tak terduga. 

Apakah permintaanku bagian dari tuntutan? Tapi tak apa, aku paham betul rasanya
Lantas salah dan benar akan jadi tolak ukur. Parameter itu menjebak. 
Datang padaku pasal-pasal pemberi kejutan, aku terkejut parah. Hahaha tawaku merambat rendah.

Kadang yang kusebut kompas sedang tak dalam genggaman, kompas yang berlogikanya sama denganku, kompas yang keberadaanya tak ingin menjauhiku, kompas yang bijaknya menyentuh, kompas yang rasa-Nya tak perlu kutanyakan, kompas yang memahami tanpa kujelaskan, kompas yang sedianya menuntun bukan menyudutkan. Sudah jelas bukan kemana arah pembicaraanku? Bahkan jika aku tersesat aku tak perlu bertanya harus kemana untuk pulang. Tautanmu - masih dalam radius akal sehatku. 

Konotasi dan denotasi jadi sukar ditafsirkan, kamu hadir pada jarak yang beroposisi semu. 

Maaf aksaraku tak cukup baik sampai di baris ini, tak cukup baik mendeskripsikan kamu dengan bentuk huruf-hurufku. Ketahuilah bahwa kamu lebih menarik dari apapun saat ini. 

r/r





 



Comments

Popular posts from this blog

Aksara

Bukan apa-apa