penjara sederhana
Pada bagian yang tak ingin lagi ada interfensi, gugatan atau sekedar bantahan. kubiarkan air tetap pada sungainya dan jembatan kokoh sebagaimana mestinya. Begitulah seharusnya aku pahami termasuk bait-bait ini. Setelah hari dan tahun titipan demi titipan kian beragam. Tak lagi kuterima sebagai hukuman melainkan hadiah yang berbeda. Kubayangkan jika kubisa kendalikan debit dan alirnya (sungai) kehidupan tanpa mengusik (jembatan) perantara pasti setiap pasir yang terseret adalah rasa yang indah.
Anggap saja gagal lalu ubah persepsinya seolah-olah dan seakan-akan. kadang kita memang buta sampai harus bertingkah menyaksikan dengan sempurna karena yang sebenarnya adalah tentang apa yang kita pikir. Aku, pikirku dan ingatan pendek tak tentu. Seperti kereta dengan daratan terbuang selalu mencari rute dan aku lupa menikmati perjalanan yang sebenarnya jauh lebih indah dari jauhnya tujuan itu.
Aku teringat dengan wejangan seorang Buddhis yang karangannya tak sengaja kutemukan di salah satu sudut dan tak pernah kusangka akan mengubah banyak hal. Terimakasihku pada apa yang telah membawa langkah kaki ini pada rak itu. Dalam kutipannya "masalalu adalah sel dengan pintu terbuka". Masih lekat dalam ingatan aksara-aksara sederhana sarat makna,untaian katanya mampu membuat kuat logika diabaikan, cara-cara tentang menggunakan batin sebagai kekuatan terbaik dalam diri. Diajarkannya cara berdamai dan menerima. Segala yang terjadi tidak ada ruang untuk mengutuk kehidupan, aku memang tidak tahu pasti namun tawaran berdamai, berwelas asih, menghargai dan bersyukur jadi lebih sederhana untuk dipahami. Alih-alih bersikeras, menarik diri meja penghakiman terasa lebih mudah karena semakin memaksa semuanya makin tak terkendali. Tak ada jawaban yang benar-benar valid selama batin sekeras batu, biarlah ia tetap lembut agar lebih peka dan tak membabibuta. Memahami tanpa menyalahkan, melepas tanpa menyesal, menerima tanpa tanpa menuntut.
- Sabtu, 8 November 2019
( Ridho ; penjara sederhana)
Comments
Post a Comment