rancu part sekian
Berangkat dari pandangan dan ritual umum saat berpaspasan, ya kamu
Sedikit perumpamaan yang bisa kujabarkan, bahkan lekukan hurufku amat terbatas menyusunmu dalam baris-baris rapi beradu spasi dengan diksi yang rancu, diri ini memang sok puitis. Entahlah seperti ini adanya, Saya memang sedang berusaha damai dengan batin, bersenandika, memberinya waktu dan ruang tanpa mengusik. Dalam diam saya berpikir dan menyadari palung ego yang berabad lamanya saya jaga. Kutemukan lagi memori-memori usang yang tak selesai ceritanya kala itu, masalah lampau belum tuntas. Saya yakini masalalu adalah penjara dengan sel terbuka, tentu saya tak ingin menjerat diri, hanya saja merasa perlu menyelesaikan biar tak risak dan jadi hantu.
Sebenarnya saya terdorong karena buku psikologi, saya baca beberapa hari lalu yang mengetuk batok kepala saya hingga cukuplah membuat saya berani mengulik memori saya. Sekali lagi saya disadarkan bahwa waktu tak menyembuhkan dan memulai butuh kerelaan. Saya menyesal karena kebodohanku mengutuk banyak hal. Kini saya merasa lebih tenang, tak merasa lebih pintar sih haha memuji diri.
Kembali ke awal tulisan ini, bayangmu masih berupa sekat yang tamaram namun kuat, semu seperti mangata. Saya tak tau perlakuan itu sama kesetiap orang atau hanya situasi yang membingkai peranmu jadi sebaik ini. Temanku saja tak banyak yang kupercaya, biasanya duluan menarik diri sih saya. Entahlah saya memang mudah terusik. Kuharap kamu tidak. Kuharap yang kupahami bukan taksa
Saya juga bukan kalkulus, tenang tak serumit itu kok. Kita bisa jadi teman, menikmati kidung, saling memahami sementara saya memperbaiki diri.
Sedikit perumpamaan yang bisa kujabarkan, bahkan lekukan hurufku amat terbatas menyusunmu dalam baris-baris rapi beradu spasi dengan diksi yang rancu, diri ini memang sok puitis. Entahlah seperti ini adanya, Saya memang sedang berusaha damai dengan batin, bersenandika, memberinya waktu dan ruang tanpa mengusik. Dalam diam saya berpikir dan menyadari palung ego yang berabad lamanya saya jaga. Kutemukan lagi memori-memori usang yang tak selesai ceritanya kala itu, masalah lampau belum tuntas. Saya yakini masalalu adalah penjara dengan sel terbuka, tentu saya tak ingin menjerat diri, hanya saja merasa perlu menyelesaikan biar tak risak dan jadi hantu.
Sebenarnya saya terdorong karena buku psikologi, saya baca beberapa hari lalu yang mengetuk batok kepala saya hingga cukuplah membuat saya berani mengulik memori saya. Sekali lagi saya disadarkan bahwa waktu tak menyembuhkan dan memulai butuh kerelaan. Saya menyesal karena kebodohanku mengutuk banyak hal. Kini saya merasa lebih tenang, tak merasa lebih pintar sih haha memuji diri.
Kembali ke awal tulisan ini, bayangmu masih berupa sekat yang tamaram namun kuat, semu seperti mangata. Saya tak tau perlakuan itu sama kesetiap orang atau hanya situasi yang membingkai peranmu jadi sebaik ini. Temanku saja tak banyak yang kupercaya, biasanya duluan menarik diri sih saya. Entahlah saya memang mudah terusik. Kuharap kamu tidak. Kuharap yang kupahami bukan taksa
Saya juga bukan kalkulus, tenang tak serumit itu kok. Kita bisa jadi teman, menikmati kidung, saling memahami sementara saya memperbaiki diri.
Comments
Post a Comment