Arsip

Tak pernah terpikir, membayangkan juga tidak.  Begitu mudah terjadi dan sang waktu dengan segala haknya mengizinkan itu bersamanya jadi bagian dari setiap dentingan detik yang sialnya tak bisa kuhindari. Pasalnya sederhana, kejelasan tak selalu harus dijabarkan. Mengaktifkan kelima indera saya rasa cukup untuk menerima itu jadi bagian yang harus dihargai atau lebih dari itu.

Dinding persegi seakan paham hanya saja ia mati, kaku tak berperasaan. Saksi yang membatasi garis bibir untuk melengkung. Markas dari episode tentang cerita yang diredupkan jadi bagian daratan terbuang. Saraf-saraf kecil dalam batok kepala saya merespon sebagaimana otak berusaha melogiskan rasa menawarkan kepada sang hati tentang temuannya bahwa ini adalah kesalahan. Logika memang diciptakan seperti itu, hati juga tau apa yang membuatnya nyaman sehingga ego rela ditelan bulat-bulat. Resiko paling sederhana adalah sakit, selebihnya saya memberi harapan dari semua hal manis yang pernah saya pikirkan. Begitulah saya manusia biasa, berharap adalah bagianku. Tak semua kata diciptakan untuk diucapkan, beberapa sengaja jadi aksara, ditulis dan dipahami dalam hati. Mungkin sejuta rasa bisa dirangkai dalam sebaris kalimat, menjadikan ia sederhana, tak berbelit-belit sebagaimana ia diam namun tak mati(dokumen batin)  bagian yang kudapati selalu memiliki topik berbeda, diksi baru dan tak kalah penting aku belajar dari paket-paket rasa itu. Arsip lamaku, daratan dengan segala bentuk miniatur hidupku.
Kuserahkan pada tuhanku ia mengatur segalanya tentangku.

Comments

Popular posts from this blog

Aksara

Bukan apa-apa